Chapter 7
The Black Devil Oswald And The White God Virgil
Aku Masih Tidak Mempercayai Mataku Sendiri.
Tanpa Kusadari Aku Terpana Oleh Keindahan Mata Kedua Orang Ini.
Kenapa Mereka Bisa Mempunyai Warna Mata Yang Sama Dengan Neo?
Instingku Berkata Kalau Ini Bukan Kebetulan,Kedua Orang Ini Mungkin Punya Hubungan Dengan Neo.
Sewaktu Aku Melihat Mereka Dengan Kagum,Aku Akhirnya Sadar Kalau Jessica Melihat Mereka Dengan Mata Berbinar-binar.
Jessica Yang Berada Disebelahku Melihat Orang Yang Memakai Kemeja Putih Itu Dengan Sorot Mata Yang Memuja Untuk Lebih Tepatnya.
Tetapi Terasa Sedikit Aneh Untuk Memakai Kemeja Untuk Pergi Ke Sekolah.
"Bailah , Perkenalkan Diri Kalian Masing-masing."Perintah Ms.Jane Kepada Mereka.
"Oswald BlackStone."Kata Orang Berkemeja Putih.
"Virgil WhiteStone."Kata Orang Berjaket Biru.
"Aneh , Kalian Tidak Terlihat Mirip Satu Sama Lain Sedikit pun. Kalian Benar Bersaudara kan?"Tanya Ms.Jane
"Yeah , Kami Memang Tidak Mirip. Tapi..Yah , Kami Memang Bersaudara."Jawab Virgil.
"Ceritakan Kepada Kami Kenapa Kalian Berdua Pindah Kemari Ke Grifin."
"Orang Tua Kami Dimutasi Kemari."Jawab Virgil Lagi.
"Pertama Kali Ke Grifin?"
"Ini Kedua Kalinya Untukku , Tapi Kakakku Sudah Delapan Kali Kesini Sebelumnya."Lagi-lagi Virgil Yang Menjawab.
Sepertinya Oswald Sama Sekali Tidak Berniat Menjawab Pertanyaannya.
Dia Melihat Kesemua Murid , Seperti Sedang Mencari Seseorang.
Jessica Masih Seperti Menghilang Dari Tempat Ini.
Dia Seperti Sedang Berkhayal Sambil Melihat Oswald.
"... Tapi Kami Mengenal Seseorang Disini."
"Benarkah? Siapa?"
"Lloyd Evrest."
Begitu Mendengar Namaku , Aku Langsung Melihat Ke Arah Virgil Terkejut.
"Lloyd." Dia Memanggil Namaku , Dan Tersenyum Kepadaku.
Bagaimana Caranya Dia Bisa Tahu Namaku?
"Kau Mengenal Lloyd , Virgil?"
"Begitulah." Katanya Tersenyum. "Aku , Kakakku , Neo Dan Dia Sering Menghabiskan Waktu Bersama."
Neo? Dia Mengenal Neo? Berarti Dugaanku Tidak Meleset. Mereka Memang Ada Hubungannya Dengan Neo.
"Neo? Kalian Berdua Juga Mengenal Neo?"
"Benar , Neo Sepupu Kami."Jawab Virgil
Aku Tidak Pernah Bertemu Virgil Sebelumnya , Apalagi Menghabiskan Waktu Dengannya.
Tapi Karena Dia Mengenal Neo , Kurasa Aku Harus Berakting Dengannya.
"Benarkah Lloyd?"Tanya Ms.Jane Kepadaku.
"...Benar."
"Well... Kalau Begitu Lloyd Bagaimana Kalau Kau Duduk Di Kursi Belakang Dengan Virgil , Kau Bisa Memandunya Di Sekitar Sekolah Nanti."
"Terima Kasih Miss , Aku Menghargainya."Kata Virgil.
"Dan Oswald , Aku Harap Kau Tidak Keberatan Duduk Di Sebelah Jessica." Kata Ms.Jane. "Jangan Khawatir , Jessica Anak Yang Sangat Ramah."
"...Aku Tidak Keberatan." Jawab Oswald.
Aku Juga Tidak Keberatan Karena Kalau Virgil Mengenal Neo , Aku Sangat Ingin Tahu Apa Yang Dia Lakukan Disini.
Aku Mengambil Bukuku Dan Pindah Ke Kursi Kosong Di Belakang.
Virgil Mengambil Tempat Duduknya Di Sebelahku.
"Ohayo Lloyd-Kun."Sapa Virgil.
Aku Cukup Terkejut Ketika Dia Menyapaku Dalam Bahasa Jepang.
"Aku Hanya Mengerti Sedikit Bahasa Jepang , Benar-Benar Sedikit , Jadi Kumohon Jangan Berbicara Bahasa Jepang Denganku."Katanya Tersenyum.
"Kau Tahu Aku Bisa Berbicara Bahasa Jepang?"
"Tentu Saja , Aku Tahu Kau Baru Saja Pindah Dari Tokyo."
"Bagaimana..."
Belum Sempat Aku Menyelesaikan Kalimatku , Virgil Sudah Berbicara Lagi.
"Aku Mengadakan Sedikit Penelitian Sebelum Aku Sampai Di Grifin."
"Tentang Aku?"
"Khususnya Tentang mu Lloyd."Katanya Kembali Tersenyum.
Aku Terdiam Untuk Beberapa Saat,Tapi Yang Dia Lakukan Hanyalah Tersenyum Kepadaku.
"Apa Hubunganmu Dengan Neo?" Tanyaku.
"Wow...Kau Bahkan Tidak Ingin Berbincang-bincang Dulu Denganku."
"Aku Mengikuti Permainan Kalian , Sekarang Saatnya Kau Menjawab Pertanyaanku."
Virgil Menghela Nafasnya , "Baiklah , Hubungan Kami Dengan Neo...Bisa Dibilang Rekan Kerja."
"Rekan Kerja?"
"Yup... Kami Pemburu Vampire." Katanya Riang.
Aku Sangat Terkejut , Dan Ini Dugaanku Yang Paling Aku Tidak Ingin Menjadi Benar.
Mereka Berdua Memang Punya Hubungan Dengan Neo , Dan Bukan Hanya Sekedar Hubungan Biasa.
Mereka Berdua Juga Seorang Pemburu , Memburu Orang-Orang Seperti Tear , Vampire.
"Apa Yang Kalian Lakukan Disini!?" Tanyaku Dengan Suara Yang Mulai Sedikit Panik.
"Wow , Kenapa Kau Panik Lloyd? Kami Datang Untuk Membantumu , Well...Membantu Neo Untuk Lebih Tepatnya. Tapi Membantunya Berarti Membantumu Juga kan?"
"Apa Maksud Kalian!? Aku Sudah Mengenal Dunia Gila Kalian Cukup Dalam Dan Aku Tidak Ingin Mengenalnya Lebih Dalam Lagi!!"
"Kalau Begitu Kita Punya Tujuan Yang Sama." Katanya Tersenyum.
"Sama? Apa Kalian Gila!? Dengan Datangnya Kalian Berdua , Kalian Melibatkan Aku Lebih Jauh Lagi!!"Suaraku Mulai Mengeras Sedikit.
"Calm Down,Kami Datang Untuk Menghilangkan Hubunganmu Dengan Dunia Gila Kami."
"Bagaimana Caranya Kau Akan Melakukan Hal Itu Kalau Kau Menambah 2 Orang Pemburu!?"
"Simple , Kami Hanya Perlu Membunuh Semua Vampire Disini , Dan Bang!!Kau Bebas."
Dia Sangat Bersemangat,Dan Senyumnya Terlihat Sangat Menawan Sekaligus Mematikan.
Aku Menelan Ludahku Sendiri Mendengar Perkataan Virgil.
"Jadi Perkataan Kalian Mengenai Sepupu Neo Hanya Omong Kosong?"
"Untukku , Tidak Untuk Oswald."
"Maksudmu?"
"Oswald Bukan Kakakku , Hanya Untuk Sandiwara Agar Bisa Lebih Berbaur Dengan Kalian." Dia Menjelaskan. "Tapi Oswald Memang Sepupu Neo , Ibu Oswald Adalah Adik Ibu Neo."
Ibu? Tear Memang Pernah Mengatakan Sesuatu Tentang Neo Bukan Seorang Vampire.
Tapi Dengan Menekankan Kata 'Dia Lebih Dari Seorang Vampire.' Membuatmu Berpikir Apa Benar Neo Mempunyai Ibu?
Aku Ingin Bertanya Kepadanya , Tapi Setelah Kupikir , Lebih Baik Aku Tidak Bertanya Untuk Lebih Aman.
"Kalian Berdua Juga Vampire?"
"Juga?"
"Neo , Dia Bukan Manusiakan? Dia Seorang Vampire."
Virgil Tertawa Mendengar Perkataanku , Suara Tawanya Kecil Dan Tidak Terdengar Siapa-siapa Kecuali Aku.
"Apa Yang Lucu?Kalian Juga Kan Seorang Vampire?" Tanyaku Lagi.
"Bukan Lloyd... Kami Berdua... Sesuatu Yang Lebih Menakutkan Daripada Vampire-vampire Ini."
Aku Tidak Begitu Mengerti Perkataan Mereka.
Mereka Berkata Hal Yang Sama Seperti Yang Dikatakan Tear Sewaktu Kami Pulang Dari London.
"Aku Tidak Mengerti."
"Kau Tidak Akan Pernah Mengerti."
"Fine." Gerutuku.
"Aku Hanya Bercanda , Jangan Marah. Kau Akan Mengerti Suatu Saat Nanti."Katanya Tersenyum.
"Semua Orang Mengatakan Aku Akan Mengerti Suatu Saat Nanti , Dan Sampai Sekarang Aku Masih Tidak Mengerti Apa-apa."
"Bukankah Kau Ingin Memutuskan Semua Hubungan Dengan Dunia Gila Kami?" Tanyanya Polos.
Dia Sangat Benar , Dan Dia Menyudutkan ku Di Ujung Jalan.
"...Setidaknya Beritahu Aku Yang Satu Ini , Neo Sama Seperti Kalian kan?"
"Apa Yang Membuatmu Berasumsi Begitu Lloyd?" Tanyanya Tersenyum.
"...Tear Pernah Mengatakan Kepadaku Kalau Neo Sesuatu Yang Lebih.
"Well... Kau Baru Saja Berkata Seperti Itu , Berarti Neo Sama Seperti Kalian kan?"
"Nope."
"Apa Kau Mau Menjelaskan Apa Neo Itu?"
"Let's Just Say... Neo... Dia... Sesuatu Yang Bahkan Lebih Menakutkan Daripada Kami."
Lagi-Lagi Kata Lebih , Kata-Kata Itu Sekali Lagi Membuatku Berada Di Pulau Kebingungan.
Aku Masih Saja Tidak Mengerti Tentang Apa Yang Sebenarnya Mereka Bicarakan.
"Hei , Apa Temanmu Tidak Apa-apa?"
Virgil Menunjuk Ke Arah Jessica Yang Sedang Duduk Dengan Oswald.
"Jessica? Dia Terlihat Baik-baik Saja , Apa Maksudmu?"
"Lihat Baik-baik,Mukanya Berwarna Merah Padam , Apa Dia Terkena Demam?"
Aku Melihat Ke Arah Jessica , Dan Memang Benar.
Mukanya Berwarna Merah Padam , Dan Dia Terlihat Bisa Mengeluarkan Asap Dari Kepalanya Kapan Saja.
"Kau Benar , Tapi Kurasa Dia Tidak Apa-apa,Dia Sangat Kuat Untuk Ukuran Wanita."
Tepat Setelah Selesai Aku Berbicara , Kepala Jessica Jatuh Menimpa Mejanya.
Aku Menatapnya Terheran-heran Dan Kebingungan , Sampai Aku Sadar Kalau Dia Pingsan.
Oswald Menatap Jessica Kebingungan , Sepertinya Dia Belum Sadar.
Sampai Aku Mendengar Seorang Siswa Di Belakang Berteriak Kalau Jessica Pingsan.
Ms.Jane Terlihat Panik Dan Mencoba Membangunkannya , "Jessica!?Jessica!?"
"Mungkin Dia Perlu Ke Ruang Kesehatan."Usul Virgil Di Sebelahku.
"Ide Yang Bagus Virgil. Oswald , Lloyd , Bawa Dia Ke Ruang Kesehatan!! Sekarang!!"
Aku Juga Mulai Sedikit Panik , Aku Bergegas Ke Mejanya Dan Mencoba Untuk Mengangkatnya.
Saat Aku Baru Mau Menyentuhnya , Oswald Sudah Menggendongnya Keluar Dari Kelas.
Aku Mengikutinya Dari Belakang , Dan Dia Berhenti Tepat 10 Langkah Dari Pintu Kelas.
Dia Hanya Diam Dan Itu Membuatku Bingung.
"Dimana Ruang Kesehatan?"Tanya Oswald Akhirnya Kepadaku.
"Di Sebelah --"
Dia Menghela Nafas , "Kalau Kau Tidak Ingin Mengangkatnya Setidaknya Tuntun Aku."
"Er...Baiklah."
Jessica Bagaikan Tertidur Di Kedua Tangan Oswald,Sampai Akhirnya Dia Sadar Di Tengah Jalan.
"Kau Tidak Apa-apa?" Tanya Oswald Kepada Jessica.
Oswald Mendekatkan Wajahnya Ke Jessica Dan Menempelkan Dahinya Ke Dahi Jessica.
Saat Itu Juga Warna Merah Kembali Mewarnai Wajah Jessica.
"Suhu Tubuhmu Sangat Panas , Sepertinya Kau Terkena Demam."
Wajahnya Kembali Terbakar Dan Dia Pingsan Untuk Kedua Kalinya.
Aku Dan Oswald Sama Sekali Tidak Mengerti Apa Yang Terjadi Kepada Jessica.
Saat Kami Sampai , Oswald Menurunkan Jessica Di Tempat Tidur Ruang Kesehatan.
Oswald Keluar Untuk Membeli Minuman Untuk Kami Berdua Sementara Aku Menjaga Jessica.
Jessica Bangun Saat Oswald Keluar Dari Ruang Kesehatan.
"Jess , Are You Okay?" Tanyaku.
"...Lloyd?"
"Yeah."
"Apa Yang Aku Lakukan Di Ruang Kesehatan?"
"Kau Pingsan."
"Ugh... Kepalaku Terasa Sakit."
"Apa Yang Terjadi?"
"...Oswald." Bisiknya.
"Oswald? Dia Yang Membuatmu Pingsan?"
Jessica Mengangguk Malu-malu.
"Memangnya Apa Yang Dia Lakukan?"
"...Tidak Ada."
"Tidak Ada...? Aku Tidak Mengerti."
"Dia Berada Disana... Duduk Disebelahku..."Bisiknya Lemah.
"...Lalu?"
"Lalu Aku Pingsan , Apa Kau Tidak Melihat AKu Pingsan?" Gerutunya.
"Dia Berada Disana Dan Kau Pingsan? Pasti Ada Sesuatu Yang Lebih kan?"
Jessica Mengangguk.
"... You Lost Me There Jess."Kataku Menggelengkan Kepala.
"...Alright , Promise You Won't Tell Anyone?"
"Promise."
"... Dia Memegang Tanganku..."
"Er...Aku Tidak Yakin Aku Mengerti.."
"M-Maksudku Bukan Memegang Seperti Menggenggam!! Secara Tidak Sengaja Tangan Kami Bersentuhan!!"
"...Dan...Kau Pingsan Karena Itu?"
"Oh For The Love Of... Lloyd!! Tidakkah Kau Melihat Betapa Tampannya Dia!?"
"Er... Jess , Tampan , Aku Setuju.
"Tapi Neo Mungkin 5 Kali Lebih Baik Dari Dia Dan Kau Bahkan Tidak Jatuh Cinta Ketika Melihat Neo Seperti Semua Gadis Lainnya , Aku Tidak Mengerti."
Jessica Terlihat Ragu-ragu Untuk Memberitahuku Sampai Aku Memaksanya Lagi.
"Ayolah Jess , Tell Me."
"Fine!! Remember The Black Knight!?"
"Yeah..."
"Oswald Is My Black Knight." Katanya Sambil Menarik Selimutnya Dan Menutup Wajahnya.
Aku Terdiam.
"Maaf.... Apa Yang Baru Saja..."
"Oswald-Adalah-Ksatria-Hitamku." Eja Jessica.
"What!? You Have Got To Be Kidding Me!"Teriakku.
"Ssstttt!!! Apa Kau Ingin Semua Orang Mendengarkan Kita!?"
"Dia!? Ksatria Hitammu?"
"Kau Tidak Akan Memberitahu Siapapun kan?"
"Tentu Saja Tidak , Tapi...Bagaimana?
"...Aku Melihat Dia Turun Dari Motor Ducatinya Saat Aku Pergi Berbelanja Di Dekat World Tree , Hari Jumat , Waktu Itu Sudah Hampir Gelap.
"Saat Dia Membuka Helm Hitamnya , Aku Melihat Seseorang Dengan Kesempurnaan Yang Luar Biasa Dan Dia Berada Tepat Di Mataku.
"Tapi Seperti Biasa , Aku Tidak Begitu Peduli Pada Laki-laki... Setidaknya , Sampai Itu Terjadi..."
"Itu?"Tanyaku.
Jessica Menarik Nafasnya Dan Melanjutkan Kembali Ceritanya.
"...Aku Melihat Seorang Nenek Menyeberangi Jalan , Dan Aku Juga Melihat Sebuah Volvo Berjalan Cukup Cepat Tapi Tidak Stabil.
"Saat Itu Aku Sadar Kalau Pengemudinya Sedang Mabuk , Dan Teriakanku Kepada Nenek Itu Tidak Terdengar Karena Usianya.
"Oswald...Yang Saat Itu Tidak Kuketahui Namanya , Meloncat Ke Motornya Dan Menerjang Dengan Kecepatan Tinggi Mengarah Ke Nenek Itu...Aku Tahu Dia Tidak Mungkin Bisa Menyelamatkan Nenek Itu Karena Dia Tidak Punya Cukup Waktu , Tapi Dia Berbelok Melenceng Sedikit Ke Arah Nenek Itu , Kupikir Dia Tahu Itu Adalah Hal Yang Mustahil Dan Percuma.
"Tapi Aku Salah , Dia Berbelok Dan Mengarah Tepat Ke Depan Volvo Itu Tanpa Sedikitpun Tujuan Untuk Me-rem Motornya.
" 'Dia Pasti Sudah Ingin Mati.' Itu Pikirku , Saat Ducatinya Hampir Menabrak Volvo Itu , Dia Langsung Meloncat Melewati Volvo Pengemudi Mabuk Itu.
"Ducatinya Merosot Kebawah Mobil Volvo Itu , Cukup Kuat Untuk Membangunkan Pengemudi Mabuk Dan Setengah Tidur Itu Dan Menghentikan Laju Volvo Itu...
"Hasilnya , Nenek Dan Pengemudi Volvo Itu Selamat Karena Volvo Itu Memberhentikan Mobilnya Dan Pengemudinya Sudah Sadar."
"Lalu Kenapa Dia Tidak Menarik Nenek Itu Keluar Dari Jalan Saja? Bukankah Itu Terlihat Lebih Mudah?"
"Karena Kalau Dia Lakukan Itu , Pengemudi Volvo Itu Sekarang Sudah Berada Di Dunia Sana. Kalau Dia Tidak Menghentikan Volvonya , Dia Pasti Ditabrak Atau Menabrak Kereta Api Yang Datang. Lagipula Bukankah Menarik Seseorang Di Usia Seperti Itu Dengan Kecepatan Sekitar 70Km/jam Di Atas Motor Malah Akan Memperburuk Keadaannya?"
"Kau Jatuh Cinta Kepadanya Karena Dia Menyelamatkan Nenek Itu?"Tanyaku.
"Ya... Dan Juga Karena Dia Begitu Tampan."Katanya Sambil Melamun.
"Kau Tahu Kan Ada Ratusan Laki-laki Di Grifin Yang Rela Menolong Nenek-Nenek Tua Demi Mendapatkan Perhatianmu?"
"Ada Sesuatu Yang Berbeda Dari Dia , Dan Lagi Dia Membahayakan Nyawanya Sendiri , Lalu Dia Juga Tidak Tahu Kalau Aku Sangat Kaya Dan Lagi Dia Tidak Terlihat Ingin Menarik Perhatian-ku."
"Mungkin Kau Memang Benar...Tapi Jatuh Cint--"
"Lloyd... Dia Bahkan Menghampiri Nenek Itu Dan Menanyakan Keadaannya , Apa Kau Tidak Akan Menemukan Dia Sebagai Pria Yang Sangat Sempurna?"Potongnya.
"Bagaimana Dengan Pengemudi Mabuk Itu?"
"Menghilang Dengan Cepat..."
"Uh-huh...Lalu Apa Yang Terjadi? Dia Menghilang Begitu Saja Dan Kau Jatuh Cinta Padanya?"
"Tidak...Saat Itu Lampu-lampu Jalanan Menyala Menyiraminya Dengan Cahaya , Dan Percaya Kepadaku Lloyd... Saat Dia Melihat ku Dan Aku Melihatnya Kembali , Aku Melihat Seorang Malaikat..."Katanya Dengan Suara Memuja.
Ya , Tentu Saja Dia Terlihat Seperti Seorang Malaikat. Dia Sepupu Neo , Apa Yang Kau Harapkan?
Lagipula Tear Juga Terlihat Seperti Malaikat , Dan Dia Juga Masih Cantik Seperti Malaikat Waktu Dia Mencoba Untuk Merobek Leherku.
"Lalu..?"
"Aku Menjatuhkan Semua Pakaianku Dan Menunduk Untuk Mengambil Pakaianku , Tapi Tiba-tiba Saja Dia Sudah Berada Di Depanku Menolongku Mengambil Pakaianku.
"Tangannya Bersentuhan Denganku Dan Dia Melihatku , Saat Itu Wajah Sempurnanya Berada Tepat Di Depan Wajahku Dan Jantungku Berdetak Sangat Cepat , Jauh Lebih Cepat Dari Biasanya , Dia Terlihat Begitu Tampan , Lloyd..."
"Dan...Apa Yang Terjadi Setelah Itu?"
"Dia Mengembalikan Pakaianku Yang Terjatuh , Setelah Itu Dia Langsung Berjalan Mengambil Helmnya Yang Terjatuh , Dan Sejak Saat Itu Aku Tidak Pernah Melihatnya Lagi."
"Dia Sudah Bangun?" Tanya Seseorang Di Belakangku.
Oswald Kembali Dengan Membawa 3 Kaleng Soft Drinks.
Dia Memberikan Aku Satu Dan Juga Jessica , Setelah Itu Dia Menekan Tangannya Di Wajah Jessica Dan Kemudian Memegang Lehernya.
"Jantungmu Berdebar Sangat Cepat Dan Suhu Tubuhmu Tinggi. Istirahatlah , Aku Sudah Memanggil Perawat Sekolah."Kata Oswald.
Jessica Mengangguk Malu-malu , Sementara Aku Hanya Duduk Disitu Menatap Oswald.
"Lloyd , Aku Akan Kembali Ke Kelas Sekarang , Aku Akan Melapor Tentang Keadaan Jessica Ke Ms.Jane."
"Tidak , Lebih Baik Kau Saja Yang Menemani Jessica , Aku Yang Akan Melapor Ke Ms.Jane."
Jessica Menatapku Dengan Mata Garang Dan Menyeramkan , Tapi Aku Tidak Mempedulikannya.
"...If You Say So."
Oswald Tidak Terlihat Keberatan , Yang Membuat Lirikan Jessica Semakin Mengancam.
Nantinya Juga Dia Akan Berterima Kasih Kepadaku , Aku Meninggalkan Ruang Kesehatan Dan Kembali Ke Kelasku.
Aku Berjalan Di Lorong Mengarah Ke Kelas Ekonomiku , Disaat Itulah Aku Menemukan Sesuatu Yang Menyeramkan.
Aku Bertemu Jack Dan Kyle , Dua Kakak Tear Yang Haus Akan Darah.
"Well Well...If It Isn't Lloyd."Kata Jack Dengan Senyum Indahnya.
Senyum Dari Keluarga Grants , Seindah Apapun Orangnya , Senyum Itu Terlihat Mematikan Kalau Mereka Memperlihatkannya Kepadaku.
"Tear Masih Saja Belum Membunuhmu,Kurasa Memang Akan Sulit Dengan Neo Melindungimu.
"Tapi Aku Yakin Dia Akan Sangat Berterimakasih Kalau Aku Membunuhmu Sekarang Juga..."
"Jack , Ini Masih Di Daerah Terlarang."
"Lalu? Siapa Yang Melihat? Aku Sama Sekali Tidak Mencium Bau Ataupun Mendengar Siapapun."
"Er... Kalian Tidak Berpikir Akan Menyerangku Disinikan?" Tanyaku Polos.
"Well... Kau Benar-benar Mencoreng Nama Keluarga Kami Lloyd.
"Belum Pernah Ada Seorangpun Di Dunia Ini Yang Pernah Selamat Dari Kami , Dan Kami Tidak Ingin Menghapus Rekor Itu."
Jack Melihat Kyle Seperti Sedang Meminta Ijin Untuk Membunuhku.
Kyle Terlihat Sedang Memikirkan Apa Yang Terbaik Untuk Dilakukan Sekarang , Sementara Aku Sedang Berpikir Bagaimana Aku Bisa Kabur Dari Maniak-maniak Ini.
"Baiklah Jack,Tapi Lakukan Dengan Bersih. Patahkan Lehernya."
"Aye Aye Brother."
Sesaat Aku Mundur Selangkah , Jack Maju Selangkah.
Disaat Aku Mundur Dua Langkah , Dia Juga Maju Dua Langkah.
Sialnya Saat Aku Memutar Balik Badanku Dan Berlari , Dia Sudah Ada Di Depanku Lagi.
"Kau Tidak Benar-benar Berpikir Untuk Lari kan?" Tanyanya Tersenyum.
Dibelakangku Ada Kyle , Dan Di Depanku Ada Jack.
Walaupun Aku Tidak Akan Bisa Kabur , Sekalipun Hanya Ada Satu Diantara Mereka.
Pilihan Apa Yang Tersisa Untukku? Kabur? Mereka Hanya Akan Menangkapku Lagi.
Mencoba Melawan? Walaupun Mereka Manusia Biasa Sekalipun , Aku Masih Ragu Kalau Aku Bisa Mengalahkan Mereka.
Menyerah Dan Membiarkan Mereka Membunuhku Tanpa Rasa Sakit? Aku Masih Belum Sempat Menikah!!
"Little Lamb,Ready To Be Slaughtered By The Big Bad Wolf." Kata Jack.
Ketika Dia Mendekat , Dua Hal Terjadi.
Pertama , Aku Mendengar Suara Tembakan. Kedua , Aku Melihat Bahu Jack Tertembak Dan Mengeluarkan Darah.
"And His Guardian Came , To Save The Little Lamb And Shoot The Hell Out Of The Wolf."Lanjut Seseorang Di Belakangku.
Virgil Ada Disana,Dan Berada Tepat Di Belakang Kyle.
Kyle Yang Menyadari Keberadaannya Langsung Menghilang Dan Muncul Kembali Di Sebelah Jack.
"Hello...There." Sapa Virgil.
Aku Langsung Berlari Ke Arah Virgil Dan Melompat Jatuh Ke Sebelahnya.
Entah Kenapa Aku Meloncat,Virgil Berada Di Sebelahku Memegang Modified Silverballer Dengan Silencer Di Tangan Kanannya Mengarah Ke Jack.
"Kau..!?"
"Long Time No See , Kyle."
Kyle Tampak Mengenal Virgil , Dan Juga Sebaliknya.
Muka Kyle Terlihat Sangat Pucat Ketika Mengenali Virgil.
"Apa Yang Kau Lakukan Disini!?" Tanya Kyle Panik.
"Kau Kenal Dia Kyle?" Tanya Jack.
"...Salah Satu Dari Sepuluh Orang Pemburu Paling Berbahaya Di Dunia Vampire.
"Sang Pemburu , Virgil The White God."
Ekspersi Jack Meledak Saat Itu Juga , Mukanya Juga Terlihat Pucat Sama Seperti Kyle.
"Virgil!? Pemburu Yang Membunuh Seluruh Keluarga Janeiro!?"
"...Benar."
"T-Tapi Kau Bisa Saja Salah Kan Kyle!? M-Mungkin Saja Dia Hanya Terlihat Mirip!"
Kyle Menggeleng Kepalanya , "Tidak Salah Lagi ,Orang Di Depan Kita Adalah Virgil , Aku Tidak Mungkin Bisa Melupakan Wajahnya."
"Aw...Kyle , Jangan Bilang Kau Masih Tidak Bisa Melupakan Peristiwa Lima Belas Tahun Yang Lalu. Sudah Terlalu Lama Peristiwa Itu Terjadi." Sindir Virgil.
"Apa Yang Kau Lakukan Disini!?"
"Lima Belas Tahun Tidak Bertemu Dan Itu Hal Pertama Yang Kau Katakan Kepadaku?Aku Sangat Terluka Kyle. Sampai-sampai...Aku Ingin Membunuhmu Sekarang Juga..."
Virgil Menarik Satu Lagi Silverballer Dan Mengarahkannya Ke Kyle , Handgun Putih Itu Terlihat Lebih Berbahaya Dari Kelihatannya Ketika Aku Melihat Senyum Virgil.
"Apa Tidak Ada Masalah Mengeluarkan Senjata Seperti Itu Disini?" Tanyaku.
"Seperti Kata Jack , 'Hey!!Siapa Yang Akan Melihat?' "
Virgil Mencoba Untuk Meniru Nada Jack , Hanya Saja VIrgil Menirukannya Dengan Nada Yang Sangat Bodoh.
"... Aku Tidak Bersuara Seperti Itu." Geram Jack.
"Oh... Maaf. Kau Memang Bersuara Lebih Bodoh Dari Itu. Tapi Aku Hanya BIsa Menirukannya Hanya Sampai Sebodoh Itu." Kata Virgil Tersenyum.
"Dua Lawan Satu? Jangan Terlalu Sombong Virgil."Kata Kyle.
"Kalau Begitu Bagaimana Dengan Dua Lawan Dua?"
Kyle Dan Jack Melihat Ke Arah Suara Dari Belakang Mereka , Begitu Juga Dengan Aku.
Oswald Berada Disana,Sementara Virgil Hanya Tersenyum Menahan Tawanya Setelah Menurunkan Senjatanya.
"Oswald The Black Devil..."Bisik Kyle.
"At Your Service..."Lanjut Oswald Sambil Melakukan Gerakan Seperti Sedang Menyambut Seseorang.
"Satu Lagi Pemburu Yang Ada Di Daftar."
Tawa Virgil Meledak Saat Itu Juga , Suaranya Menggema Tepat Di Telingaku.
Kyle Dan Jack Terperangkap Diantara Virgil Dan Oswald , Ironisnya , Tidak Ada Jalan Keluar Bagi Mereka Berdua.
Perasaan Aneh Lagi-lagi Timbul Di Hatiku.
Rasa Nyeri Menyerang Dadaku Saat Mengetahui Kalau Jack Dan Kyle Akan Mati.
'Aku Tidak Ingin Mereka Mati!!Jangan Biarkan Mereka Mati!!' Teriak Hatiku.
Ini Aneh,Kenapa? Kenapa Aku Menginginkan Mereka Baik-baik Saja?
...Tear,Dia Pasti Akan Sangat Sedih Ketika Mengetahui Kakak-kakaknya Meninggal...
"Jangan Bunuh Mereka Dulu!!"Teriakku.
Teriakkan Itu Keluar Benar-benar Sangat Spontan , Dan Menghasilkan Mereka Semua Melihat Ke Arahku.
Dan Satu Ekspresi Yang Akhir-akhir Ini Sering Kudapat.
Kebingungan.
Mereka Melihatku Dengan Sangat Kebingungan , Dan Aku Tidak Tahu Apa Yang Harus Kulakukan Lagi.
Entah Mungkin Tuhan Mendengar Teriakan Hatiku.
Saat Itu Juga Bel Sekolah Berbunyi Kencang , Waktunya Untuk Berganti Kelas.
"Virgil , Oswald!!"Teriak Seseorang.
Neo Ada Disana , Dia Berdiri Tegap Dan Gagah , Seperti Layaknya Seorang Malaikat.
"Waktunya Untuk Mengganti Kelas." Kata Neo.
Virgil Melihat Ke Arah Oswald,Dan Oswald Melihat Balik Ke Arah Virgil.
Setelah Itu Mereka Berdua Menggangukkan Kepala Mereka Dan Berjalan Ke Arah Neo.
"Lloyd , Get Out Of Here... Now!!"Perintah Neo.
Aku Mengikuti Perintahnya Dan Langsung Berlari Menaiki Tangga.
Aku Tidak Benar-benar Berpikir Kemana Aku Akan Pergi , Yang Ada Di Pikiranku Hanyalah 'Berlari Sekencang Mungkin!!'
Penakut , Rupanya Aku Masih Belum Berubah , Aku Masih Saja Seorang Penakut.
Jantungku Masih Saja Memompa Darah Dengan Sangat Cepat,Ketakutan Masih Saja Membayangiku.
Tanpa Kusadari , Aku Sudah Sampai Di Atap Sekolah.
Angin Sejuk Meniup Ke Wajahku Dan Membangunkanku Dari Ketakutanku.
Aku Menghirup Udara Sebanyak Yang Kubisa , Setelah Itu Kakiku Terasa Kehilangan Tenaga Dan Aku Jatuh Duduk.
Disana Aku Melihat Seseorang Yang Sedang Menikmati Angin Yang Meniupi Rambut Dan Wajahnya.
Seorang Perempuan , Dan Dia Sedang Tersenyum Seperti Sedang Menikmati Angin Itu Dengan Segenap Tubuhnya.
Tear , Aneh Melihat Dia Mengeluarkan Senyumannya Yang Tidak Mematikan.
Kali Ini Senyumannya Benar-benar Terlihat Tulus Dan Indah.
Dia Membuatku Sekali Lagi Teringat Akan Betapa Cantiknya Dirinya.
Dia Melihatku Terkejut Tapi Tetap Tersenyum , "Lloyd.." Sapanya.
Aku Meyakinkan Diriku Sendiri Kalau Aku Sedang Tidak Bermimpi.
Tear Menyapaku Dan Tidak Hanya Itu , Dia Juga Tersenyum Sangat Cantik.
Aku Tenggelam Dalam Suaranya Sampai Aku Sadar Akan Dimana Aku Berada.
"Aku Melihatmu...Kau Sangat Berani Lloyd.."
"Melihatku?"
"Kau Melindungi Kakak-kakakku kan? Bagiku Itu Tindakan Yang Sangat Berani."
"A-Aku..."
"Tindakan Yang Sangat Bodoh,... Sekaligus Sangat Berani..."
"Aku Hanya Melakukannya Karena Aku Takut Akan Darah."Gerutuku.
Tear Tersenyum , "I Admire That. Kau Terlihat Sangat Gagah."
"...Thanks.."
Kami Terdiam Untuk Beberapa Saat.
"Apa... Kakak-kakak-mu Akan Baik-baik Saja?"
"..Neo Tidak Akan Membunuh Mereka. Setidaknya Tidak Saat Bel Sudah Berbunyi Dan Para Murid Sedang Ada Diluar."
"Oh... Senang Mendengarnya..."
"... You're Weird... Like Usual." Kata Tear Tersenyum.
"Heh... Thanks." Kataku Malu-malu.
Kami Terdiam Lagi , Seperti Sedang Kehabisan Topik Untuk Dibicarakan.
Sebenarnya Aku Tidak Perlu Berbicara Panjang Lebar Hanya Untuk Mengisi Kekosongan Di Antara Kami.
Aku Bisa Saja Menatap Wajahnya Seharian Penuh Tanpa Merasa Bosan , Tapi Tear Pasti Merasa Aneh.
Aku Memutar Balik Otakku Dan Akhirnya Mengingat Kejadian Tiga Bulan Yang Lalu.
Tear Mengajakku Untuk Pergi Ke Spring Dance Bersama.
Tidak Terasa Aku Sudah Berada Di Grifin Selama Tiga Bulan.
Tiga Bulan Terakhir Ini Telah Mengubah Hidupku Sepenuhnya.
Tapi Kenapa Tear Tetap Ingin Pergi Ke Spring Dance Bersamaku?
Dia Sudah Mencoba Untuk Mengambil Nyawaku Sekali , Dan Tidak Ada Jaminan Dia Tidak Akan Melakukannya Lagi.
Tapi...Aku Ingin Mempercayainya...
"Jadi...Jam Berapa Aku Harus Menjemputmu Hari Jumat Ini?"
"J-Jumat?" Tanyanya Terkejut.
"Kau Lupa? Spring Dance Tinggal Dua Hari Lagi , Hari Jumat."
"Maksudmu Kau Ingin Pergi Ke Spring Dance Bersamaku?"
"Kita Sudah Berjanji. Kau Akan Pergi Ke Spring Dance Bersamaku."
Tear Terlihat Sangat Terkejut Mendengar Perkataanku , Raut Wajahnya Terlihat Gusar.
"A-Aku Tidak Yakin Dengan Janji Itu , Kau Boleh Membatalkannya Kalau Kau Mau..."
Aku Tersenyum Mendengarnya , "Gentlemen Macam Apa Yang Membatalkan Janji Dan Membiarkan Kencannya Tidak Dijemput?"
Aku Hampir Bisa Bersumpah Sesaat Aku Melihat Tear Tersipu.
"T-Tapi..."
"Aku Bersumpah Kalau Aku Tidak Akan Pernah Membiarkan Siapapun Melukaimu , Termasuk Neo."
Tear Terlihat Terkejut , Kemudian Dia Menjadi Ragu-ragu.
"Pick You Up At Seven?" Tanyaku.
"Kau Bahkan Tidak Tahu Dimana Rumahku..."
"Aku Akan Menunggu Tepat Di Depan World Tree.."
"... Aku... Mungkin Tidak Akan Datang.."
"Akan Kutunggu..."
"Mungkin Saja Aku Akan Membunuhmu Ditempat Kau Menunggu.."
"Aku Percaya Padamu."
"Kenapa..?"Bisik Tear Pelan. "Kenapa Kau Begitu Percaya Kepadaku?"
"...Karena..."
Tear Melihatku Dengan Penuh Tanda Tanya Di Wajahnya.
"Karena...Aku Memilih Untuk Percaya.." Jawabku Tersenyum.
Tear Terlihat Sangat Terkejut Mendengar Perkataanku , Keraguan Kembali Memenuhi Wajahnya
"...See You Later Lloyd..."
Tear Melompat Dari Atap Sekolah Seketika Dia Menyelesaikan Kalimatnya.
Aku Hampir Berteriak Jangan , Tapi Aku Ingat Kalau Dia Tidak Akan Terluka Sama Sekali.
"Akan Kutunggu!!"Teriakku.
Neo Dan Yang Lainnya Sudah Tidak Ada Lagi Disana Waktu Aku Melihat Ke Bawah.
Semoga Saja Tidak Ada Hal Buruk Yang Menimpa Kedua Sisi , Bisikku Dalam Hati.
***
'Apa Yang Kupikirkan!?' , Teriak Tear Dalam Hatinya.
Tear Sangat Tergoda Kepada Ajakan Lloyd Untuk Menghampiri Spring Dance Bersamanya
Tapi Bahaya Terhadap Keluarganya Sangatlah Besar.
Tear Tahu Kalau Bau Darah Lloyd Sangat Menggodanya.
Kalau Sampai Dia Kehilangan Kendalinya Di Pesta Nanti,Dia Harus Membunuh Semua Orang Yang Berada Di Dalam Pesta Itu.
Tidak Sulit , Kesulitannya Hanyalah Saat Pembunuhannya Berakhir.
Keluarganya Harus Menghadapi Bahaya Akibat Perbuatannya.
Dia Mencari-cari Jack Dan Kyle , Tapi Dia Tidak Bisa Menemukan Mereka.
Bagaimana Kalau Neo Dan Teman-temannya Berhasil Membunuh Dua Kakaknya?
Saat Itu Juga Neo Tepat Berdiri Di Depannya Bersama Virgil Dan Oswald.
Hawa Dingin Berhembus Di Punggungnya.
Tubuhnya Menggigil Ketakutan Akibat Keberadaan Tiga Pemburu Ini Di Depan Matanya.
"Aneh,Aku Mengira Malaikat Tidak Takut Kepada Iblis."Ejek Virgil.
"Malaikat Memang Tidak Takut Kepada Iblis."Jawab Oswald.
"'But She's No Angel."Lanjut Neo.
"Begitu Juga Dengan Kalian!! Kalian Sama Sekali Tidak Berbeda Jauh Dengan Kami!!"Jawab Tear Marah.
"We Never Said That We're An Angel."Kata Virgil Tenang.
"We're The Devil." Lanjut Oswald.
"And You're The Demon.." Kata Neo.
"Apa...Apa Yang Kalian Lakukan Kepada Jack Dan Kyle!?"
"Worried?" Ejek Neo.
Tear Terdiam Untuk Beberapa Saat.
Tubuhnya Masih Saja Bergetar Ketakutan Di Depan Mereka.
"Relax , Kami Tidak Bisa Membunuh Mereka Disini. Tapi Mungkin Kami Mematahkan Beberapa Tulang Mereka."
"Mungkin Mereka Akan Mati Kalau Dibiarkan Begitu Saja."Kata Virgil Tersenyum
"Mereka Tidak Akan Mati. Kau Tahu Kenapa Tear? Karena Kau Yang Akan Mati Paling Pertama. Aku Ingin Kau Menjadi Darah Pertama Yang Tumpah Di Antara Keluarga Grants."
Neo Mengungumkan Hal Itu , Seperti Mengungumkan Kepastian Akan Kematian Tear.
Tear Semakin Ketakutan Mendengar Perkataan Neo , Dan Getaran Dari Tubuhnya Semakin Hebat.
Virgil Kemudian Tertawa , Sedangkan Oswald Hanya Diam Tidak Berbicara.
Neo Menabrakkan Bahunya Ke Bahu Tear Dan Berbisik , "Seharusnya Kubunuh Kau Puluhan Tahun Yang Lalu , Dasar Anak Terkutuk."
Neo Kemudian Pergi Melewati Tear Bersama Virgil Dan Oswald.
Tawa Virgil Semakin Meledak , Sementara Oswald Terlihat Sama Sekali Tidak Peduli.
Kata-kata Neo Terasa Lebih Sakit Daripada Luka Yang Dia Terima Saat Neo Menebas Punggungnya.
Air Matanya Menetes , Dan Saat Dia Menyadarinya Dia Sudah Terluka Terlalu Dalam.
Tear Sebenarnya Selalu Berusaha Membawa Neo Ke Pihaknya , Pihak Para Vampire , Bukan Para Pemburu.
Bukan Karena Kekuatannya , Tapi Karena Kepedulian Tear Kepada Neo , Tear Sangat Menyayangi Neo.
Air Mata Tear Terus Saja Menetes Dan Dia Tidak Bisa Menghentikannya.
Dia Mengeluarkan Sebuah Buku Tua Berwarna Coklat Dari Dalam Bajunya.
Tear Selalu Membawa Buku Ini Kemanapun Dia Pergi , Buku Tua Ini Bertuliskan 'Yuna's Diary.' Tepat Di Depan Sampulnya.
Tear Memandang Buku Tua Itu Dan Kemudian Berkata , "Yuna...Seandainya Saja Kau Ada Disini.. Kau Bisa Memberitahu Aku Apa Yang Harus Aku Lakukan.."
Kemudian Tear Memeluk Buku Itu Dan Mengusap Air Matanya.
Setelah Itu Dia Menyimpan Kembali Buku Coklat Itu Didalam Bajunya Dan Kemudian Mencari Jack Dan Kyle.
*****
"Kurando..."Panggil Ibuku.
Aku Mendekati Ibuku Dan Dia Menggendongku.
"Aku Ingin Kau Bertemu Seseorang Kurando."
Ibuku Menggendongku Ke Ruang Tamu Kami.
Disana Ada Ayahku , Seorang Laki-laki Lagi,Seorang Perempuan Dan Seorang Anak Laki-laki.
Kemungkinan Anak Dari Perempuan Dan Laki-laki Itu.
Dia Hampir Seumuran Denganku , Mungkin Hanya Berbeda Setahun Atau Dua Tahun.
"Kurando,Aku Ingin Kau Bertemu Dengan Paman Dan Bibimu."
Laki-laki Itu Tidak Terlihat Lebih Tua Dari Ayahku , Dia Berambut Coklat Dan Mempunyai Mata Coklat Yang Indah.
"Halo Kurando , Ini Kedua Kalinya Kita Bertemu , Aku Ian Pamanmu , Adik Ayahmu. Dan Ini Istriku Karen , Bibimu."
"Paman Ian Dan Bibi Karen. "Ulangku.
"Tepat Sekali , Dan Aku Juga Ayah Baptismu , Anakku."
"Ayah...Baptis?"
"Hahaha... Benar , Pertama Kali Aku Bertemu Denganmu , Kau Masih Sangat Kecil , Kau Mungkin Tidak Mengingatnya."
"Jadi Apa Aku Harus Memanggil Paman/Ayah?"
"Hahaha , Tentu Saja Tidak , Kau Bisa Tetap Memanggilku Paman Ian."
"Baiklah Paman Ian."
"Ah , Aku Hampir Lupa , Ini Anakku Verserk. Dia Sepupumu Kurando."
Paman Ian Menarik Tangan Anak Laki-lakinya Yang Bersembunyi Di Belakangnya.
Ibuku Lalu Menurunkan Agar Aku Bisa Melihat Sepupuku.
Aku Melihat Verserk Untuk Pertama Kalinya Pada Saat Itu.
Mata Coklatnya Terlihat Sangat Menarik , Dan Aku Bisa Melihat Dia Juga Melihat Mataku.
Aku Baru Menyadari Kalau Paman Ian Dan Bibi Karen Mempunyai Mata Yang Sama Ketika Aku Melihat Mereka Lagi.
"Verserk , Ini Sepupumu , Kurando."Kata Paman Ian.
"Kak Kurando..?" Bisik Suara Mungil Itu.
Setelah Mengatakan Hal Itu , Verserk Mendekat Ke Arahku Dan Duduk Didepanku.
"Hahaha , Kau Benar John. Anakmu Luar Biasa , Dia Bahkan Bisa Mempengaruhi Anakku Dan Aku Sendiri."Kata Paman Ian Ke Ayahku.
"Di Dalam Tubuhnya Mengalir Darah Sang Raja , Dua Raja , Tentu Saja Dia Luar Biasa."Kata Ayahku Tertawa.
"Tiara , Apa Kau Tidak Khawatir?"Tanya Bibi Karen Ke Ibuku.
"Tentu Saja Aku Khawatir... Tapi Dia Ayah John , Dan John Menginginkan Aku Memberi Dia Kesempatan."
"Tapi Kau Tidak Harus Melakukan Ini , Kau Tahu John Akan Mengerti."
"Karen , Sejak Aku Menerima Lamaran John , Ayah John Sudah Menjadi Ayahku Juga."
"Tapi Dia Tidak Pernah Menganggapmu Anaknya , Tiara!! Kau Tahu Itu. Seorang Ayah Tidak Akan Pernah Mencoba Untuk Membunuh Anaknya."
"John Percaya Kalau Dia Sudah Berubah."
"Bagaimana Dengan Kau? Apa Kau Percaya?"
Ayahku Dan Paman Ian Berbincang-bincang Sambil Tertawa,Sementara Ibuku Dan Bibi Karen Hanya Terdiam Melihat Satu Dengan Yang Lain.
"Kak Kurando , Apa Benar Kakak Yang Terbaik Di Sekolah?" Tanya Verserk Kepadaku.
"Siapa Yang Mengatakan Itu Kepadamu?"
"Ayah , Dia Bilang Kalau Kak Kurando Selalu Mendapatkan Nilai Sempurna Di Sekolah. Apa Itu Benar?"
"...Lebih Baik Kalau Kita Tidak Membicarakannya."
"Tapi Ayah Benar kan? Kalau Kak Kurando Adalah Yang Terbaik Di Sekolah. Aku Juga Akan Masuk Ke Sekolah Seminggu Lagi."
"Mungkin Aku Memang Yang Terbaik , Tapi Apa Yang Kau Mau?" Tanyaku Sedikit Sebal.
"Kak Kurando Bisa Mengajariku Bagaimana Caranya Menjadi Yang Terbaik!"
Aku Tersenyum Mendengar Perkataannya , Satu Kalimat Darinya Dan Aku Merasa Lega Karena Sekolah Akan Menjadi Tempat Yang Lebih Tidak Membosankan Dari Biasanya.
"Tentu Verserk , Kau Juga Bisa Menjadi Yang Terbaik."
"Dia Datang..." Bisik Ayahku.
Seakan-akan Merespon Suara Ayah , Petir Menyambar Di Angkasa.
Suara Rintik-rintik Hujan Mengikuti Suara Petir Di Luar , Hujan Seakan-akan Menyambut Tamu Kami.
Ibuku Langsung Menggendongku Dan Bibi Karen Langsung Menggendong Verserk.
Ibuku Lalu Memelukku Kuat Seakan-akan Kalau Dia Tidak Akan Melepaskanku.
Paman Ian Menggeram Ketika Kami Mendengar Suara Ketukan Pintu.
"Dia Tidak Sendirian.." Kata Paman Ian.
"Mereka Bertiga."Lanjut Ayahku.
"Tiga Orang Tidak Akan Cukup Untuk Menghabisi Kita , John."
Paman Ian Dan Ayahku Tersenyum Penuh Percaya Diri.
"Kalau Begitu Mari Kita Bukakan Pintu Untuk Mereka."Kata Ayahku.
Ayahku Membukakan Pintu Untuk Seseorang Di Depan.
Dan Aku Menyadari Akan Siapa Yang Baru Saja Datang.
Kakek Sudah Tiba Di Depan Pintu Kami.
*****
Aku Bermimpi...
Aku Pasti Tertidur Begitu Aku Sampai Di Mobil.
Buktinya Sekolah Sudah Hampir Tidak Ada Orang , Lamborghini Neo Dan Dua Ducati Milik Virgil Dan Oswald Juga Sudah Menghilang.
Aku Menyalakan Mobilku Dan Pulang Ke Rumahku.
Aku Melihat Ferrari Chris Sudah Berada Di Depan Rumah,Chris Pasti Sudah Ada Di Dalam.
"Chris , I'm Home." Kataku Begitu Aku Sampai Di Rumah.
"Darimana Saja Kau?"
"Aku Capek Dan Aku Lapar , Mungkin Akan Kuceritakan Besok."
"...Khususnya Aku Lapar." Ulangku Sekali Lagi.
"Ya Ya , Dasar Perut Monster. Sebelum Itu , Kau Kedatangan Tamu."
"Tamu?" Tanyaku Heran.
"Mereka Ada Di Kamarmu."
"Mereka?"
Dari Perkataan Chris Akan "Mereka." , Mengartikan Lebih Dari Satu Orang.
"See For Yourself."
Aku Menaiki Tangga Berjalan Menuju Kamarku.
Saat Berada Di Depan Pintu Aku Bisa Mendengar Suara-Suara Berisik Datang Dari Kamarku.
Suara Suara Mereka Terdengar Bahkan Sampai Di Lorong Di Depan Kamarku.
"Jadi?Apa Kau Benar Pacar Lloyd?" Tanya Seorang Perempuan
"S-Sudah Kukatakan Bukan."Jawab Perempuan Yang Lain
"Tapi Kau Datang Kesini Sendiri kan?Apa Kalian Berdua Akan Menghabiskan Waktu Berdua Saja Sebagai Teman?"Tanya Seorang Laki-laki
"Mencurigakan..."Lanjut Seorang Laki-laki Yang Lain.
"B-Bukan Begitu!!"
Suara Mereka Semua Memang Terdengar Sangat Familiar.
Aku Membuka Pintu Kamarku Dan Menemukan Dua Laki-laki Dan Dua Perempuan.
"Lloyd!!" Sapa Perempuan Berambut Coklat Pendek Itu.
"Kaede...?"
"Long Time No See."Sapa Laki-laki Berambut Hitam Pendek.
"Ishida?"
"Yo." Sapa Si Pirang.
"Kevin..? Apa Yang Kalian Lakukan Disini!?"Tanyaku Senang.
"Hi Lloyd..."
Catherine Juga Ada Disana , Bersama Tiga Temanku.
Mereka Bertiga Adalah Teman-teman Sekolahku Di Jepang.
Perempuan Tinggi Berambut Coklat Pendek , Memakai Baju Merah Dan Syal Biru Kotak-kotak Beserta Rok Coklat Pendek Adalah Kaede.
Kaede Adalah Ketua Klub Berenang , Dia Adalah Perenang Perempuan Terbaik Di Seluruh Jepang.
Aku Mengikuti Klub Berenang Selama Dua Tahun Saat Aku Masih Di Junior High.
Yang Berambut Hitam , Kaus Biru Dan Jaket Coklat Adalah Ishida.
Ishida Dan Kevin Adalah Teman Sekelasku , Ishida Dan Kaede Sudah Menjadi Teman Terbaikku Sejak Kami Bertiga Berumur Delapan Tahun.
Si Pirang Dengan Baju Hitam Ketat : Kevin.
Kevin? Kevin Adalah Murid Perpindahan Dari Los Angeles , Dan Aku Adalah Teman Pertamanya Saat Junior High.
Kami Berlima Selalu Mengerjakan Apapun Bersama , Aku Tidak Salah Hitung. Masih Ada Seorang Lagi , Tapi Dia Tidak Ada Disini Sekarang.
"Lloyd , I Miss You So Much!!"
Kaede Langsung Melompat Ke Arahku Dan Memelukku Di Dadanya Dengan Sangat Kencang.
"Kaede....Sesak..."
Dia Memelukku Sangat Erat , Hingga Aku Kesulitan Bernafas.
Kaede Menyadarinya Dan Melepasku Dari Pelukannya.
"Huff...I See You Met Catherine.."
Aku Mengambil Sebotol Air Putih Dan Meneguknya.
"Ahh...You Mean Your Girlfriend?"
Aku Tersedak Begitu Mendengar Kaede.
"P-Pacar!?"
"K-Kaede-san!!Kau Menyalah artikan Hubungan Kami!!" Kata Catherine Panik.
Catherine Mengatakan Nama Kaede,Seakan-akan Dia Tahu Bagaimana Berbicara Bahasa Jepang.
Aku Melihatnya Dengan Wajah Penuh Tanda Tanya
"Aku..Pernah Berlibur Ke Jepang."Jawab Catherine,Dia Bisa Membaca Pikiranku.
"Akui Saja Lloyd , Dia Memang Pacarmu kan?"Sergah Ishida.
"Suspicious..."Lanjut Kevin.
"Ugh...Sudah Kukatakan , Kami Berdua Tidak Punya Hubungan Apa-apa."
"B-Benar."Kata Catherine Membenari.
"Kau Tersipu Catherine...How Cute..."Kata Kaede Tersenyum Manis.
Aku Melihat Dan Menyadari Kalau Wajah Catherine Memang Benar Berwarna Merah.
"Lebih Baik Kalau Kalian Tidak Datang."Gerutuku.
"Hei Hei , Kami Terbang Puluhan Ribu Mil , Dan Itu Yang Kau Katakan Kepada Kami?"
"Apa Yang Kalian Lakukan Disini?"
"Kami Merindukanmu Lloyd.."Jawab Kaede.
"Dan Kebetulan Ayahku Mempunyai Dua Tiket Ekstra Untuk Pergi Kemari."Lanjut Kevin.
"Kau Tidak Perlu Memberitahu Bagian Itu Kevin."Gerutu Ishida.
"Nobunaga Bilang Dia Akan Menyusul Kemari."
"Ehh!? Benarkah?"
"Ah,Kaoru Juga Bilang Kalau Dia Juga Akan Menyusul Kemari."Kata Kaede.
"Otokawa-san?That's Weird.."
Catherine Terlihat Bingung Akan Pembicaraan Kami.
Dia Terlihat Sama Sekali Tidak Mengerti Akan Apa Yang Kami Bicarakan.
Aku Tidak Tahan Melihatnya Terlihat Tertinggal Sendirian , Jadi Aku Menjelaskan Kepadanya.
"Nobunaga Adalah Salah Satu Temanku , Begitu Juga Dengan Otokawa. Kami Semua Bersekolah Di Tempat Yang Sama."
Catherine Terlihat Mengerti Dan Dia Mengangguk.
"Beyond...This World..?You Sure Read A Lot Of Weird Stuff."Kata Ishida Begitu Dia Menemukan Buku Vampireku Di Laci Mejaku.
"Hei!! Itu Barang Pribadi!! Kau Tidak Bisa Seenaknya Membongkar-bongkar Laci Meja Orang Lain!!"
Ishida Terlihat Tidak Memperdulikanku Sama Sekali , Dia Tetap Saja Membongkar-bongkar Isi Laci Mejaku.
"Hmm...Lloyd , Apa Kau Pernah Berhubungan Seks Dengan Catherine?"
Aku Memuntahkan Air Yang Baru Saja Kuminum Begitu Mendengar Pertanyaannya.
Darimana Orang Gila Ini Sebenarnya Datang!? Lima Belas Menit Dia Berada Disini Dan Dia Sudah Menanyakan Apakah Aku Pernah Berhubungan Seks Dengan Catherine!!
Wajah Catherine Langsung Terlihat Merah Dan Terbakar , Dia Juga Terlihat Sedikit Marah Akibat Pertanyaan Ishida.
"Ishida!! Darimana Kau Menanyakan Pertanyaan Seperti Ini!!"
"Kurasa Tidak...Aku Tidak Melihat Satupun Kon---
"Ishida-kun!!" Teriak Catherine.
"Lloyd , Jadi Kau Masih Saja Vir--
"Ishida!!" Teriakku.
"I'm Just Joking You Know , No Need To Panic."Ishida Tersenyum Lebar.
Tapi Setiap Kali Aku Melihat Ishida Tersenyum Seperti Itu , Berarti Sesuatu Yang Buruk Akan Segera Terjadi.
Tidak Ada Hal Baik Yang Terjadi Kepadaku Kalau Aku Melihat Senyum Ishida Yang Seperti Itu.
Bisa Dibilang Aku Lebih Menyukai Senyum Kematian Virgil Ataupun Tear , Daripada Senyuman Ishida.
Dia Baru Saja Mendapatkan Ide Yang Buruk... Dan Aku Adalah Kelinci Percobaannya.
Tunggu..Tear..? Benar...Dua Hari Lagi Aku Akan Pergi Ke Spring Dance Bersamanya.
Aku Berharap Dia Tidak Akan Mengeluarkan Senyum Kematiannya...
Tiba-tiba Saja Suara Handphone Seseorang Berbunyi...
Kevin Mengangkat Handphonenya Yang Berdering Dan Berbicara Pelan.
Aku Tidak Bisa Mendengar Apa Yang Dia Bicarakan , Karena Kaede Dan Ishida Sedang Menggoda Catherine.
"Kaede-san , Otokawa-san Perlu Berbicara Denganmu." Kata Kevin Tiba-tiba.
Kaede Terlihat Cukup Terkejut Begitu Mendengar Kevin.
"Bilang Kepadanya Kalau Aku Akan Menelponnya Lagi Nanti."
"Done."
Kevin Sudah Menutup Handphonenya Sejak Tadi.
Sepertinya Dia Sudah Tahu Apa Jawaban Kaede.
"Lloyd , We Have To Go Now." Kata Kaede.
"We Do?" Tanya Ishida.
Kaede Menginjak Kaki Ishida Begitu Dia Selesai Berbicara.
"Ow!! I-I Mean , Yeah , We Have To Go Now."
"Apa Kalian Harus Pergi Sekarang?" Tanyaku Sedih.
Aku Harus Mengakui , Aku Merindukan Mereka.
Tidak Ada Jaminan Kalau Aku Akan Bertemu Lagi Dengan Mereka Secepatnya.
"Oh..Lloyd...Don't Worry...I'll Miss You Too..." Desah Kaede Sambil Memelukku.
"Hei Hei , Kaede , Ini Hari Pertama Kita Sampai Disini. Kita Tidak Akan Pulang Ke Jepang Dalam Waktu Kurang Dari Sebulan."
"Benarkah?"Tanyaku.
"Benar , Kita Akan Bertemu Lagi Nanti , Lloyd."Jawab Kevin.
"You Promise."
"What Are You? Drama Queen!?"Ledek Ishida.
"Lagipula,Kami Mau Memberikan Kau Dan Catherine Waktu Untuk Berdua." Kata Kaede Tersenyum Sambil Mengedipkan Satu Matanya Ke Catherine.
"K-Kaede-san!!"
"See You Lloyd."
Kaede Tertawa Dan Pergi Meninggalkan Kamarku Bersama Ishida Dan Kevin.
Aku Menggaruk Kepalaku , Memikirkan Betapa Konyolnya Mereka.
Setelah Itu Aku Melihat Catherine,Dan Wajahnya Berubah Merah Mendadak.
"Omong-omong , Apa Arti Kedipan Mata Itu?"
"....You Don't Want To Know."
"....You're Right."
Kami Terdiam Dalam Momen Yang Aneh Ini.
"Lalu... Kenapa Kau Kesini..?" Tanyaku Untuk Memecahkan Suasana Ini.
"...Maybe Next Time." Katanya Tersenyum.
Aku Melihatnya Tidak Mengerti.
"A-Aku Rasa Aku Akan Pulang Sekarang.."
"You Sure?" Tanyaku.
"Yeah...I Had A Lot Of Fun Today..."
"Well...If You Say So...Although I Don't Know What Kind Of Fun Did You Had Around Those Dimpwits."
Catherine Pergi Meninggalkan Kamarku Dengan Wajah Memerah.
Huh...Mungkin Dia Marah Akibat Ejekan Kaede Dan Ishida.
"Hei Lloyd,Lasagna Panas Dan Segelas Susu Untukmu."
Chris Masuk Ke Kamarku Membawakan Aku Sepiring Lasagna Dan Segelas Susu.
Sepertinya Dia Sama Sekali Tidak Ada Minat Berbicara Denganku Sedikitpun Hari Ini , Karena Dia Langsung Keluar Dari Kamarku.
Akibat Bertemu Dengan Teman Lamaku Dan Berteriak Di Depan Mereka Membuatku Semakin Lapar.
Aku Menyendok Habis Lasagnaku Ke Dalam Mulutku , Dan Menelannya Dengan Segelas Susu Dingin.
Kenyang Dan Puas , Rasa Kantuk Memenuhiku , Dan Aku Melompat Ke Tempat Tidurku.
Aku Berpikir...Apa Mungkin Aku Akan Melihat Kelanjutan Mimpiku Yang Tadi?
Mungkin Saja...Lagipula Setiap Kali Aku Bermimpi , Selalu Saja Kelanjutan Dari Yang Terakhir.
Matakupun Mulai Tertutup Perlahan-lahan , Dan Tidurku pun Menjadi Sangat Nyenyak.
***
"Tidurnya Sangat Nyenyak... Untuk Orang Yang Hampir Saja Dibunuh Keluarga Grants..."
Virgil Dan Oswald Berada Di Depan Lloyd Yang Sedang Tertidur.
Mereka Sudah Mengawasi Lloyd Dan Mendengarkan Setiap Perkataan Dan Tindakannya Sejak Dia Meninggalkan Sekolah.
"Beritahu Aku Sekali Lagi Oswald , Kenapa Kita Harus Melakukan Ini?"
"Apa Kau Tidak Menyadarinya? Baunya , Baunya Sangat Mirip Dengan Dia."
Virgil Mengedus-endus Bau Lloyd.
"Aah... Kau Benar. Tapi , Bagaimana?"
"Itulah Mengapa Kita Melakukan Ini."
"Kurasa Dia Akan Baik-baik Saja."
"Apa Kau Lupa? Spring Dance Bukan Dilakukan Di SMA Asgard , Tapi Di Hotel Sunlight Groove."
"Maksudmu.. Kalo Sunlight Groove Itu..?"
"Teritori Mereka , Dan Mereka Tidak Menyukai Pendatang Sama Sekali."
"Tapi Neo Tidak Pernah Diserang Di Tahun-tahun Sebelumnya."
"Tempat Spring Dance Diselenggarakan Berbeda Setiap Tahunnya , Dan Terlalu Banyak Dari Kita Yang Akan Datang."
"Jadi...Kita Hanya Bisa Berharap Mereka Sedang Dalam Mood Yang Baik?" Tanya Virgil.
"Ya... Dihitung Mereka Memang Tidak Pernah Dalam Mood Yang Baik." Jawab Oswald Sambil Tersenyum.
"Then...This Should Be Fun.."
"Grifin Is Falling Apart And You're Happy?"
"Tidakkah Kau Tahu? Kesenangan Sejati Berada Di Dekat Pintu Kematian."
Virgil Tersenyum Dan Tertawa , Tawanya Mempunyai Melodi Yang Sama Seperti Biasanya.
Melodi Kematian...